aliansisukabuminews.com – Sukabumi, Di tengah gempuran kemasan modern berbahan plastik dan karton, Kampung Nangewer, Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi, justru menunjukkan arah berbeda. Di kampung ini, suara bilah bambu yang dianyam bukan sekadar aktivitas harian, tetapi denyut ekonomi sekaligus warisan budaya yang tetap hidup lintas generasi.
Sekitar 80 persen warga Kampung Nangewer menggantungkan penghidupannya pada kerajinan anyaman bambu berbentuk dus tradisional atau yang dikenal sebagai besek. Produk ini menjadi kemasan khas untuk berbagai makanan, terutama mochi—ikon kuliner Sukabumi yang membutuhkan sentuhan alami dan estetika tradisional.
Berbeda dari narasi industri rumahan pada umumnya, ekosistem besek di Nangewer terbentuk secara organik dan berlapis. Para pengrajin tidak hanya bekerja sebagai produsen, tetapi juga menjadi bagian dari rantai distribusi lokal yang melibatkan pengepul, pemasok bambu, hingga pelaku usaha makanan.
“Pembuatan keranjang mochi di sini sudah sejak tahun 80-an dan usaha itu dilakukan secara turun-temurun. Saya dan ibu saya meneruskan nenek saya menjadi pengepul dan perajin,” ujar Neneng (52), salah satu pelaku usaha yang kini menjadi simpul distribusi besek di kampung tersebut.
Menariknya, proses produksi di Nangewer masih mempertahankan teknik manual yang mengandalkan ketelitian tangan. Mulai dari pemilihan bambu, proses penipisan, hingga penganyaman dilakukan tanpa mesin. Hal ini membuat setiap besek memiliki karakter unik, sekaligus menjaga kualitas yang diakui oleh para pelaku usaha kuliner.
Dalam sehari, seorang pengrajin bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan besek, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Permintaan pun relatif stabil, bahkan meningkat pada momen tertentu seperti hari besar keagamaan, ketika kebutuhan kemasan makanan melonjak.
Namun, di balik potensi tersebut, para pengrajin juga menghadapi tantangan, mulai dari ketersediaan bahan baku bambu hingga regenerasi tenaga kerja. Meski demikian, semangat mempertahankan tradisi tetap menjadi kekuatan utama masyarakat Nangewer.
Kampung Nangewer kini tidak hanya sekadar sentra produksi, tetapi juga representasi bagaimana kearifan lokal mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan zaman. Di tangan para perajin, besek bukan hanya wadah makanan—melainkan simbol keberlanjutan, identitas, dan ekonomi berbasis komunitas.







